Sinergi Tangguh dan Mandiri, Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Lebih Tinggi dan Berdaya Tahan

TN, trustnews.id
Sabtu, 29 November 2025 | 12:47 WIB


Sinergi Tangguh dan Mandiri, Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Lebih Tinggi dan Berdaya Tahan
Dok, Istimewa
TRUSTNEWS.ID — Ekonomi Indonesia tetap berkinerja baik dan berdaya tahan di tengah tingginya gejolak dan ketidakpastian global. Capaian positif ini merupakan hasil kerja kolektif bangsa, serta sinergi kebijakan fiskal dan moneter yang memperkuat pertumbuhan dan stabilitas secara beriringan.

Atas capaian itu, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan apresiasi kepada Bank Indonesia (BI) yang terus mengawal stabilitas perekonomian dan turut mendorong pertumbuhan, yang bersinergi dengan berbagai pengelola perekonomian nasional. Sinergi dan kerja sama ini, kata Presiden, memberikan hasil nyata dan prestasi yang bisa dibanggakan.

“Kita harus percaya kepada kekuatan kita sendiri, dan tidak boleh bergantung kepada negara lain. Saling mengisi, saling membantu, dan sekarang saatnya memberikan solusi yang cepat kepada rakyat. Kebijakan perlu dirumuskan dengan ketenangan, dilaksanakan dengan kepercayaan diri dan dengan tekad untuk berdiri di atas kaki kita sendiri,” tutur Presiden Prabowo saat menyampaikan arahannya pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2025 dengan tema “Tangguh dan Mandiri: Sinergi Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Lebih Tinggi dan Berdaya Tahan"yang diadakan di Kantor Pusat Bank Indonesia, Jakarta (28/11).   

Pada kesempatan yang sama, Gubernur BI, Perry Warjiyo,  menyampaikan optimisme bahwa perekonomian Indonesia kedepan lebih baik dengan pertumbuhan lebih tinggi dan berdaya tahan. Tentu tetap mewaspadai ketidakpastian global yang tinggi.

Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 berada di kisaran 4,7–5,5%, dan meningkat lebih tinggi pada 2026 dan 2027,  masing-masing dalam kisaran 4,9–5,7% dan 5,1–5,9%. Pertumbuhan ini, jelas  Perry , didukung konsumsi dan investasi yang meningkat, serta ekspor yang cukup baik di tengah perlambatan ekonomi dunia. 

Begitupun inflasi akan tetap terjaga rendah dalam kisaran sasaran 2,5±1% pada 2026 dan 2027. Prakiraan ini didukungkonsistensi kebijakan moneter, kebijakan fiskal, eratnya sinergi pengendalian inflasi baik di pusat maupun di daerah serta penguatan implementasi “Program Ketahanan Pangan Nasional”. Stabilitas eksternal dan sistem keuangan juga tetap terjaga, disertai digitalisasi yang terus berkembang pesat. 

Ke depan, ada lima tantangan global yang perlu terus dicermati dan diwaspadai, yakni: Berlanjutnya kebijakan tarif AS; Melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia; Tingginya utang Pemerintah dan suku bunga negara maju; Tingginya kerentanan dan risiko sistem keuangan dunia; serta maraknya uang kripto dan stable coins pihak swasta.

“Sinergi merupakan prasyarat dalam memperkuat transformasi ekonomi nasional agar pertumbuhan dapat lebih tinggi dan berdaya tahan. Sinergi kebijakan perlu terus diperkuat untuk menghadapi berbagai tantangan yang semakin kompleks, yang meliputi lima area penting,” jelas Perry saat menyampaikan paparannya pada pertemuan tahunan Bank Indonesia 2025 ini.

Pertama, memperkuat stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Kedua, mendorong pertumbuhan lebih tinggi dan berdaya tahan. Ketiga, meningkatkan pembiayaan perekonomian dan pasar keuangan. Keempat, mengakselerasi digitalisasi ekonomi-keuangan nasional. Kelima, memperkuat kerja sama ekonomi bilateral dan regional.

Sinergi kebijakan transformasi sektor riil untuk meningkatkan modal, tenaga kerja, dan produktivitas diperlukan untuk mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi dan berdaya tahan. Kebijakan ini ditempuh baik melalui kebijakan industrial maupun kebijakan reformasi struktural, yang saling melengkapi. 

Kebijakan industrial diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah produksi dari sektor-sektor prioritas nasional, termasuk diantaranya hilirisasi khususnya berbasis sumber daya alam, industri teknologi, serta industri padat karya. Sementara kebijakan struktural diarahkan untuk perbaikan iklim investasi, persaingan usaha yang sehat, konektivitas infrastruktur, serta penguatan kebijakan perdagangan dan investasi, termasuk melalui Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) sebagai pusat-pusat pertumbuhan. (TN)