KPw BI Maluku Utara Ekonomi Tertinggi Di Indonesia Dan Diversifikasi Lapangan Usaha

TN, trustnews.id
Kamis, 09 Februari 2023 | 14:58 WIB


KPw BI Maluku Utara Ekonomi Tertinggi Di Indonesia Dan Diversifikasi Lapangan Usaha
istimewa
Perekonomian Provinsi Maluku Utara pada triwulan III 2022 tercatat tumbuh tinggi sebesar 24,85 persen (yoy). Meski sedikit mengalami penu[1]unan dibandingkan triwulan II 2022 yang tumbuh sebesar 17,74 persen (yoy), Maluku Utara menjadi provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia.

 

"Maluku Utara menjadi provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia untuk periode triwulan III 2022," ujar R. Eko Adi Irianto, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Maluku Utara, menjawab TrustNews. Pertumbuhan tinggi tersebut menurutnya, didorong oleh meningkatnya ekspor luar negeri sejalan dengan berlanjutnya peningkatan produksi komoditas hilir nikel, serta pertumbuhan investasi yang masuk sejalan dengan rencana pembangunan smelter di Maluku Utara.

 

"Pertumbuhan ekonomi Maluku Utara yang tercatat tumbuh tinggi utamanya ditopang oleh kinerja ekspor luar negeri dengan komoditas utama Feronikel dan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP). Permintaan dari industri besi dan baja dan baterai EV di Tiongkok akan sangat mempengaruhi kinerja industri pengolahan maupun ekspor luar negeri," ungkapnya.

 

Pada triwulan III 2022, lanjutnya, pertumbuhan pada sektor industri pengolahan mengalami deselerasi dibandingkan triwulan sebelumnya sejalan dengan permintaan yang menurun dari Tiongkok. Selanjutnya, sejak triwulan III 2021 terjadi perubahan pada struktur lapangan usaha di Maluku Utara. Lapangan usaha pertanian masih menjadi penyumbang terbesar perekonomian Maluku Utara hingga triwulan III 2021. Namun demikian, porsinya semakin tergerus oleh pertumbuhan lapangan usaha (LU) industri pengolahan dan pertambangan.

 

Selain itu, lapangan usaha perdagangan dan transportasi juga mengalami pertumbuhan seiring dengan semakin pulihnya kondisi ekonomi yang memengaruhi peningkatan mobilitas dan akti[1]vitas perdagangan di Maluku Utara.

 

"LU industri pengolahan sejak tahun 2020 terus mengalami tren peningkatan. Pada triwulan III 2021 akhirnya melampaui LU pertanian, kehutanan dan perikanan serta terus mengalami pertumbuhan yang signifikan. Performa sektor industri pengolahan dan pertambangan terus menanjak sejalan dengan bertambahnya jumlah smelter yang telah beroperasi di Maluku Utara," ujarnya.

 

Di sisi lain, lanjutnya, shifting tenaga kerja dari sektor lain khususnya LU pertanian, kehutanan, dan perikanan secara perlahan terus terjadi. Berkurangnya jumlah tenaga kerja di Maluku Utara (khususnya di wilayah Halmahera) yang menggarap lahan-lahan pertanian dan perkebunan, maupun melaut tentunya akan berdampak pada tingkat produktivitas pertanian yang semakin menurun. Perubahan dari masyarakat agraris menjadi masyarakat industri, menurutnya, menyebabkan perubahan struktural perekonomian Maluku Utara. Untuk itu Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku Utara memberikan beberapa rekomendasi, diantaranya.

 

Pertama, Pembangunan kawasan pangan sebagai upaya mendorong belanja pemerintah dan menopang kebutuhan pangan. Kedua, Melanjutkan program Petani Unggulan Bank Indonesia (PUBI) dalam rangka meningkatkan produktivitas pertanian.

 

Ketiga, Peningkatan produktivitas sektor unggulan ekspor non-nikel. Keempat, Memperkuat upaya untuk meningkatkan daya saing UMKM. Kelima, Keterlibatan pengusaha lokal yang masih terbatas dalam kegiatan investasi di kawasan industri pengolahan. Keenam, Menguatkan upaya sosialisasi dan edukasi literasi digital bagi pengguna dan memperkuat ekosistem digital.

 

"KPw BI Maluku Utara berharap kedepannya adanya diversifikasi lapangan usaha lain di mana sekarang ini pertumbuhan ekonomi Maluku Utara hanya didominasi oleh lapangan usaha industri pengolahan dan pertambangan," ujarnya.

Selain itu, dirinya juga berharap adanya trickle down effect dari lapangan usaha industri pengolahan kepada lapangan usaha lain khususnya lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan.

 

"Oleh karena itu perlu adanya diversifikasi lapangan usaha lain dan keterlibatan pengusaha lokal dalam kegiatan investasi di kawasan industri pengolahan Maluku Utara yang masih perlu ditingkatkan serta diperlukannya peran aggregator yang diharapkan menjadi jembatan antara pengusaha lokal dengan Usaha Besar serta meningkatkan produktivitas pertanian di Maluku Utara," pungkasnya.